Sikap WHO Lecehkan Indonesia

16 11 2008

Menkes RI: Saya Tidak Terima
Padang—Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari menjelaskan, dirinya merasa tidak menerima sikap Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) terhadap Indonesia. WHO di dunia luar menyebutkan Indonesia rawan terhadap flu burung. Dampak informasi itu, Indonesia dinilai tidak aman untuk dikunjungi wisatawan.

“Terus terang saya tidak menerima apa yang disampaikan WHO tersebut, ekspose yang dilakukan badan dunia ini dirasa tidak objektif. Bahkan WHO dengan sistem Liberalisasi kapitaslisnya, telah memojokan Indonesia di mata dunia terkait aspek kesehatan,” ungkap Menkes RI ini melalui Teleconference saat pembukaan Kongres Nasional ke-XIV Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Hotel Bumi Minang, Senin (3/11).

Dihadapan 1.400 bidan yang ikut kongres itu dan dihadiri Dirjen Binkesmas Budi Hardja, Plt Sekprov Sumbar Asrul Syukur, Kepala Dinkes Sumbar Rosnini Savitir, Kepala DKK Padang Efrida Aziz dan undangan lainnya itu, Menteri Kesehatan menambahkan, untuk persoalan wabah atau penyakit yang muncul di negara lain, selain Indonesia malah cukup besar potensi. Namun WHO malah menuding Indonesai yang lebih parah, misalnya dengan munculnya kasus flu burung.

Siti Fadila menilai, pernyataan yang dikemukan WHO kepada pihak dunia itu adalah sikap yang salah besar, bahkan implikasinya bisa memunculkan polemik politik yang panjang dan memiliki dampak nasional yang cukup besar.

Ditambahkannya, secara bukti virologis (virulogical evidence), virus H5N1 belum bermutasi atau berubah bentuk. Masih berupa virus yang berjenis penularan dari unggas ke manusia. Tapi, berdasarkan bukti epidemis (epidemical evidence), kemungkinan H5N1 telah berubah menjadi virus yang bisa menular dari manusia ke manusia. “Tapi itu masih bersifat probable,” katanya.

Untuk meng-canter informasi WHO itu, lanjut Siti Fadila, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mengambil langkah menentang tudingan WHO tersebut.
“Sejalan dengan itu, juga dilakukan pencarian data seberapa besar potensi yang ditimbulkan akibat flu burung tersebut bagi masyarakat luas, khusus mereka yang berkunjung ke Indonesia,” sebut Menkes.

Dilarang Jual Susu Formula

Sekaitan Kongres ke-XIV IBI, Menkes meminta kepada seluruh bidan agar tidak menjadi Sales susu formula bagi pasien mereka yang baru melahirkan. Karena pemberian susu formula ini, katanya akan cenderung membuat ibu-ibu malas menyusui bayi mereka.

Kecenderungan ibu-ibu memberikan susu formula pada bayinya berawal dari tindakan bidan yang memberikan susu formula pada bayi saat sang ibu baru melahirnya. Meski sifatnya pertolongan namun kebiasaan tersebut bisa berlanjut sehingga banyak bayi yang tidak mendapatkan Asi Ekskusif sebagai penunjang kesehatan mereka.

“Asi itu penting bagi bayi, zat yang dikandung ASI tidak sama dengan apa yang ada dalam susu formula. Selain itu, ASI sangat baik untuk pencernaan dan kecerdasan anak,” ujar Siti Fadilah Supari lagi.

Lebih jauh Menteri menjelaskan, banyaknya bayi indonesia yang tidak mendapatkan asupan air susu ibu akan berimbas pada kecerdasan kualitas generasi indoensia nantinya. Bidan sebagai perpanjang tangan pemerintah dalam hal ini diminta untuk berperan aktif dalam sosialisasi pemberian Asi Eksklusif pada bayi oleh ibu-ibu Indonesia.

“Kita sangat berharap para bidan kita tidak menjual lagi susu formula kepada pasien mereka terutama bagi ibu-ibu yang memiliki bayi berumur di bawah 6 bulan,” tandasnya.(zil)


Tindakan

Information

Tinggalkan komentar